Persamaan Persepsi Minggu 2

Persamaan Persepsi Minggu 2

Penjelasan Skenario 2

Ikhtisar Bagian: Pada bagian ini, pembicara menjelaskan skenario 2 yang dibahas pada tutorial sebelumnya.

  • Skenario 2 adalah topik yang dibahas pada tutorial sebelumnya.
  • Topik yang dipelajari adalah tentang kelainan pompa dan katup jantung.
  • Kasus yang diberikan adalah bayi perempuan usia 4 bulan dengan keluhan nafas cepat dan sering terputus-putus.
  • Data tambahan berupa identitas pasien seperti usia, jenis kelamin, riwayat penyakit, dan riwayat hipertensi.

Riwayat Pasien

Ikhtisar Bagian: Pada bagian ini, pembicara menjelaskan riwayat pasien secara detail.

Identitas Pasien

  • Usia pasien saat pemeriksaan adalah 4 bulan 5 hari.
  • Ayah pasien berusia 27 tahun dan bekerja sebagai karyawan bengkel. Ibu pasien berusia 20 tahun dan merupakan ibu rumah tangga. Jenis kelamin pasien adalah perempuan.

Keluhan Utama

  • Keluhan utama pasien adalah nafas cepat atau sesak. Keluhan ini disadari oleh ibu sejak satu bulan yang lalu. Nafas cepat ditandai dengan adanya tarikan dinding dada. Nafas bayi ini mungkin cepat apabila anaknya menyusu atau menangis.

Riwayat Penyakit

  • Pasien memiliki riwayat batuk berulang sejak usia 2 bulan.
  • Tidak ada riwayat keluarga dengan penyakit yang sama dan tidak ada riwayat biru pada pasien.

Kesimpulan

Dalam bagian ini, pembicara memberikan penjelasan mengenai skenario 2 yang dibahas pada tutorial sebelumnya serta menjelaskan secara detail mengenai identitas pasien dan riwayat penyakitnya.

Riwayat Kesehatan Pasien

Overview: Pada bagian ini, dokter menjelaskan riwayat kesehatan pasien yang meliputi riwayat kehamilan, nutrisi, imunisasi, tumbuh kembang, dan sosial ekonomi.

Riwayat Kehamilan

  • Selama hamil terutama trimester 1 ada mual muntah berulang.
  • Asupan makan selama hamil cenderung kurang sehingga kenaikan berat badannya hanya 5 kg.
  • AMC nya tidak rutin di bidang.

Riwayat Nutrisi dan Imunisasi

  • Minumnya ASI sejak lahir.
  • Durasi menyusunya cenderung singkat dan terputus-putus setiap kali menyusu sehingga tidak optimal untuk asupan nutrisinya.
  • Imunisasi belum lengkap karena bayinya sering batuk saat mau divaksin.

Riwayat Tumbuh Kembang

  • Bayi lahir prematur pada usia kehamilan 32 minggu dengan berat badan lahir kecil yaitu 2300 gram.
  • Kenaikan berat badannya per bulannya semakin menurun sehingga target kenaikan berat badan per bulannya tidak terpenuhi.
  • Bisa senyum spontan dan menoleh ke arah sumber bunyi tetapi masih belum dapat mengangkat kepala dan masih belum bisa tengkurap.

Sosial Ekonomi

  • Ayahnya bekerja sebagai karyawan bengkel dengan penghasilan kurang lebih 1 juta perbulan.
  • Ibu rumah tangga dengan lingkungan yang padat penduduk.
  • Hubungan sosial keluarga dengan tangga baik.

Hasil Pemeriksaan Fisik

Overview: Pada bagian ini, dokter menjelaskan hasil pemeriksaan fisik pasien yang meliputi kondisi umum, vital sign, antropometri, dan review of system.

Kondisi Umum

  • Bayi tampak sesak tapi masih komposmentis.

Vital Sign

  • Nadi: 155 kali per menit berapa reguler dan kuat angkat nafas.
  • Frekuensi nafas: 55 kali per menit.
  • Suhu: 36.8°C.
  • Saturasi oksigen: 96%.

Antropometri

  • Berat badan bayinya 3.5 kilo untuk saat ini.
  • Panjang badan Pasien adalah 53 cm.
  • Berat badan perpanjang badan pada minus 3 minus 2-3 standar deviasi sehingga termasuk dalam kategori gizi kurang.

Review of System

  • Keluhan berat badan sulit naik.
  • Kulit bayi cenderung berkeringat dingin dan teraba dingin.
  • Ada keluhan sesak ya disertai dengan batuk yang berulang.

Pemeriksaan Fisik

Overview: Pada pemeriksaan fisik, ditemukan adanya nafas cuping hidung dan JVP meningkat. Tanda-tanda lain yang ditemukan adalah pupil isokor, tidak ada ikterus, dan tidak ada anemia.

Kepala

  • Ditemukan adanya nafas cuping hidung.
  • Pupil isokor dapat cahaya positif.

Thorax

  • Ictus tampak pada CS5 PSL sinistra dan teraba di tempat yang sama.
  • Terdengar suara jantung satu dan dua normal.
  • Terdengar mur kontinu dengan interkostal 2 subclampia sinistra gradenya 3/6.
  • Retraksi interkostal terlihat pada pemeriksaan volume.

Abdomen

  • Abdomen normal tetapi teraba hepar 2 cm di bawah argus coste.

Ekstremitas

  • Tidak ada sianosis atau clubbing fingers.
  • Akralnya teraba hangat.

Diagnosis Gagal Jantung

Overview: Pasien didiagnosis mengalami gagal jantung berdasarkan tanda-tanda seperti sesak napas, retraksi interkostal, kaki penuh, serta peningkatan CVP. Dalam hal ini, kemungkinan penyebabnya adalah penyakit jantung bawaan karena pasien masih berusia 4 bulan.

Tanda-Tanda Gagal Jantung

  • Sesak napas ditandai dengan retraksi interkostal dan kaki penuh.
  • Terdengar murmur continue pada ICS 2 subclampia sinistra gradenya 3/6 disertai dengan adanya thrill.
  • CVP meningkat.
  • Ada hepatomegali.

Kemungkinan Penyebab

  • Penyakit jantung bawaan seperti BSD, PDA, aorta pulmonary window atau pulmonary arteri.

Diagnosis Pasien dengan Gagal Jantung

Overview: Pada bagian ini, dokter membahas hasil pemeriksaan fisik dan penunjang pada pasien yang mengalami sesak napas dan batuk kronis.

Penyebab Sesak Napas

  • Kemungkinan pertama adalah gagal jantung karena klinisnya mengarah ke sana.
  • Namun, perlu menyingkirkan kemungkinan penyebab lain seperti batuk kronis atau asma bronkial.

Hasil Pemeriksaan Penunjang

  • Status gizi pasien adalah gizi kurang.
  • Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan hasil yang normal.
  • Pada foto toraks didapatkan radio megali dengan hipertrofi Atrium kiri, hipertrofi ventrikel kiri, dan aorta desenden. Terdapat peningkatan vaskularisasi paru.
  • EKG menunjukkan sinus kaki dengan hipertrofi ventrikel ke kiri dan dilatasi Atrium kiri.
  • Dari dua pemeriksaan tersebut, diketahui bahwa terjadi kardiomegali pada ruang jantung ventrikel kiri dan Atrium kiri. Untuk mengetahui struktur jantung dan fungsi kontraktilitas otot jantung diperlukan pemeriksaan ekokardiografi.

Hasil Ekokardiografi

  • Didapatkan duktus arteriosus yang persisten dengan ukuran 6 mm.
  • Terdapat arus darah yang kontinu dari aorta ke Arteri pulmonalis melalui duktus arteriosus.
  • Fraksi ejeksi pasien menurun, menggambarkan kekuatan kontraktilitas otot jantung yang juga menurun pada pasien dengan gagal jantung.

Diagnosis dan Tatalaksana

  • Pasien didiagnosis dengan PDA besar atau paten duktus karena ukurannya lebih dari 5 mm.
  • Anamnesis dan pemeriksaan fisik sesuai dengan tanda klinis gagal jantung.
  • Status gizi pasien adalah gizi kurang.
  • Klasifikasi gagal jantung pasien adalah Rose kelas 3.
  • Diperlukan tatalaksana yang sesuai untuk mengatasi permasalahan pada pasien.

Tatalaksana Pasien dengan PDA Besar dan Komplikasi

Dalam bagian ini, dokter menjelaskan tentang tatalaksana pasien dengan PDA besar dan komplikasi. Dia membahas gejala-gejala yang muncul pada pasien seperti ini dan memberikan panduan untuk mengatasi kondisi tersebut.

Tatalaksana Awal

  • Pasien harus diberi oksigen terlebih dahulu.
  • Jangan terlalu cepat memberitahu orang tua tentang kondisi pasien.
  • Memberikan nutrisi dan cairan sesuai kebutuhan pasien.

Tatalaksana Gagal Jantung

  • Obat-obatan pertama yang diberikan adalah untuk mengurangi afterload dan preload.
  • Diuretik dapat diberikan untuk mengurangi preload.
  • Untuk mengurangi afterload, dapat diberikan obat golongan ACE inhibitor.
  • Cairan harus dikurangi 20% agar tidak membebani jantung.

Terapi Definitif

  • Koreksi PDA dilakukan secara non-invasif atau invasif menggunakan device melalui kateter setelah berat badan pasien mencapai 6 kg.
  • Konsultasi dengan dokter anak konsultan card biologi sangat penting dalam menentukan langkah terapi selanjutnya.

Edukasi Orang Tua

  • Orang tua harus diberikan penjelasan tentang kondisi pasien dan langkah terapi yang akan dilakukan selanjutnya.

Tatalaksana Bayi Baru Lahir dengan Gagal Jantung

Pada bayi baru lahir atau neonatus, tatalaksana gagal jantung tergantung pada adanya tanda-tanda gagal jantung dan keberadaan prematuritas. Obat-obatan dapat diberikan untuk menginduksi penutupan duktus jika ada tanda-tanda gagal jantung dan bayinya prematur.

Penutupan Duktus

  • Penutupan duktus dapat dilakukan dengan pemberian Ibuprofen atau indometazin.
  • Jika penggunaan obat ini berhasil menutup duktus dan gagal jantung terkontrol, maka tidak perlu operasi.
  • Namun, jika upaya ini gagal, maka operasi ligasi harus dilakukan pada bayi yang masih neonatus dan memiliki gagal jantung yang tidak terkontrol dengan pemberian obat.
  • Operasi terbuka adalah pilihan jika berat badannya lebih dari 6 kilogram.

Tatalaksana pada Bayi Cukup Bulan

  • Pada bayi cukup bulan, tidak bisa diberikan obat-obatan untuk merangsang penutupan dari duktus. Kontrol untuk kegagalan jantung harus dilakukan terlebih dahulu.
  • Jika kegagalan jantung tidak terkontrol dengan pemberian obat, maka operasi ligasi harus dilakukan.
  • Namun, jika berhasil, operasinya bisa ditunda hingga usia lebih dari 12 minggu dan berat badannya sudah lebih dari 4 sampai 6 kilogram.

Tatalaksana pada Anak atau Remaja dengan Gagal Jantung

Pada anak atau remaja, tatalaksana gagal jantung tergantung pada adanya hipertensi pulmonal. Jika tidak ada hipertensi pulmonal, maka transfer bisa dilakukan jika pasien sudah cukup besar. Namun, jika ada hipertensi pulmonal, maka harus dilihat dari Eco kardiografi apakah aliran darahnya masih left to right atau sudah recture.

Hipertensi Pulmonal

  • Jika aliran darahnya masih left to right, maka transfer bisa dilakukan.
  • Namun, jika sudah recture dan hiperaksiat es terjadi, maka transkateter bisa dilakukan.
  • Jika hiperkoxianya non relatif, maka tatalaksana konsumtif dengan pemberian obat-obatan cukup.

Komplikasi yang Bisa Terjadi

Komplikasi yang dapat terjadi akibat PDA antara lain gagal jantung dan hipertensi pulmonal. Selain itu juga dapat menyebabkan pneumonia berulang dan indukcapitis infeksi.

Gagal Jantung

  • Awalnya live menjadi recture karena penutupan duktus tidak berhasil.
  • Hipertensi pulmonal dapat terjadi karena peningkatan popularisasi baru.
  • Asupan nutrisi otomatis terganggu sehingga risiko terjadinya gagal tumbuh meningkat.

Pneumonia Berulang dan Indukcapitis Infeksi

  • Risiko terjadinya pneumonia berulang meningkat karena vaskularisasi paru yang meningkat.
  • Risiko terjadinya indukcapitis infeksi juga meningkat.

Penjelasan tentang PDA

PDA atau duktus persistent adalah kelainan dimana duktus atau pembuluh darah yang menghubungkan antara arteri pulmonal kiri dan aorta desendent tetap terbuka pada bayi baru lahir. Prevalensinya dari total penyakit jantung bawaan adalah 5-10%. Perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki.

Kelainan pada Otot Polos pada Duktus Arteriosus

Overview: Pada bayi prematur, kelainan pada otot polos pada duktus arteriosus menyebabkan duktus tidak menutup. Hal ini disebabkan oleh menurunnya responsivitas tubuh terhadap oksigen. Pada bayi yang ada rem, duktus sangat sensitif terhadap oksigen dan akan menutup seiring dengan semakin tingginya kadar oksigen.

Penyebab Kelainan pada Otot Polos pada Duktus Arteriosus

  • Pada bayi prematur, kelainan pada otot polos pada duktus arteriosus menyebabkan duktus tidak menutup karena responsivitas tubuh terhadap oksigen yang rendah.
  • Pada bayi yang ada rem, duktus sangat sensitif terhadap oksigen dan akan menutup seiring dengan semakin tingginya kadar oksigen.

Pengaruh Prostaglandin E2 dan Prostacyclin

  • Kadar prostaglandin E2 (PGE2) dan prostacyclin akan menurun dengan cepat setelah bayi lahir.
  • Endometri Ibuprofen digunakan sebagai anti-prostaglandin untuk menghambat kerja dari prostaglandin sehingga relaksasi dapat terjadi dan duktus arteriosus dapat menutup.

Fungsi Duktu Arteriosus

Overview: Duktu arteriosus adalah struktur yang dibutuhkan saat janin karena aliran darah yang sedikit melewati dari atrium ke ventrikel kanan. Duktu arteriosus memungkinkan sebagian besar aliran darah dari ventrikel kanan masuk ke aorta lewat arteri pulmonalis.

Fungsi Duktus Arteriosus

  • Duktu arteriosus dibutuhkan saat janin karena aliran darah yang sedikit melewati dari atrium ke ventrikel kanan.
  • Sebagian besar aliran darah dari ventrikel kanan masuk ke aorta lewat arteri pulmonalis melalui duktu arteriosus.

Penutupan Duktus Arteriosus

  • Tekanan di paru akan turun setelah bayi lahir sehingga duktus arteriosus dapat menutup.
  • Jika duktus tetap terbuka, maka tekanan di aorta sama dengan tekanan di arteri pulmonal dan akibatnya aliran darah balik yang awalnya dari arteri pulmonal berbalik menjadi dari aorta ke arteri pulmonal. Hal ini disebut sebagai Eisenmenger Syndrome.

Patofisiologi dan Gejala PDA

Overview: Penjelasan tentang patofisiologi dan gejala PDA pada bayi.

Patofisiologi

  • Arteri pulmonalis membesar karena aliran darah yang terus menerus dari aorta ke arteri pulmonalis.
  • Terdapat murmur continue pada semua fase karena adanya aliran darah yang terjadi baik pada sistol maupun diastol.
  • Kondisi ini disebabkan oleh prediksi posisi, faktor sensitivitas, kadar oksigen rendah, aspirasi mekonium atau pneumonia pada bayi baru lahir.

Gejala

  • Pada PDA kecil, gejalanya asimtomatik dan hanya terdengar suara jantung tambahan berupa murmur.
  • Pada PDA sedang sampai berat, muncul perubahan hemodinamik seperti volume besar pada ventrikel kiri atrium kiri sehingga apexnya geser dan vertikal kiri membesar.
  • Terdapat intoleransi exercise dan sesak dengan aktivitas.
  • Tekanan arteri pulmonal semakin tinggi sehingga terjadi hipertensi pulmonal.
  • Jika sudah parah maka akan timbul sianosis.

Perbedaan antara PDA Kecil dan Besar

Overview: Penjelasan tentang perbedaan antara PDA kecil dan besar serta gejalanya.

Perbedaan Antara PDA Kecil dan Besar

  • Murmurnya sangat jelas pada PDA kecil.
  • Pada PDA kecil, gejalanya asimtomatik dan hanya terdengar suara jantung tambahan berupa murmur.
  • Pada PDA besar, terjadi perubahan hemodinamik seperti volume besar pada ventrikel kiri atrium kiri sehingga apexnya geser dan vertikal kiri membesar.
  • Terdapat intoleransi exercise dan sesak dengan aktivitas.

Hipertensi Pulmonal

Overview: Penjelasan tentang hipertensi pulmonal yang terjadi akibat dari PDA.

Hipertensi Pulmonal

  • Tekanan arteri pulmonal semakin tinggi sehingga terjadi hipertensi pulmonal.
  • Jika sudah parah maka akan timbul sianosis.
  • Terdapat hipertrofi jaringan pada ujung udang di bawah kuku (clubbing).

Ukuran PDA dan Gejala

Overview: Dalam bagian ini, dijelaskan mengenai ukuran PDA dan gejalanya pada pasien.

Ukuran PDA

  • PDA besar memiliki diameter lebih dari 5 mm dan dapat diketahui melalui eco kardiografi atau angiografi.
  • PDA kecil memiliki diameter antara 3-5 mm.
  • Pada pemeriksaan fisik, hanya didapatkan murmur pada PDA kecil. Sedangkan pada PDA sedang atau besar, tekanan nadi melebar dan denyut nadinya kuat.

Gejala

  • Biasanya asimtomatik pada PDA kecil.
  • Gejala muncul pada usia 2 bulan untuk PDA sedang.
  • Berat badannya sulit naik jika sudah terjadi gagal jantung akibat dari PDA yang besar.

Diagnosis dan Penanganan

Overview: Bagian ini menjelaskan mengenai diagnosis dan penanganan untuk pasien dengan kelainan jantung bawaan.

Diagnosis

  • EKG dapat digunakan untuk melihat hipertrofi ventrikel kiri pada kasus PDA yang besar.
  • Ekokardiografi adalah gold standard dalam diagnosis kelainan jantung bawaan.

Penanganan

Obat-obatan

  • Indometasin atau Ibuprofen dapat digunakan untuk mengobati PDA pada bayi prematur.
  • Dosis awal Ibuprofen adalah 10 mg per kg berat badan, dosis kedua dan ketiga 5 mg per kg berat badan.

Tindakan

  • Penutupan PDA dapat dilakukan dengan pembedahan atau menggunakan device.
  • Pembedahan diperlukan jika sudah terjadi gagal jantung klinis pada bayi. Sedangkan pada anak-anak yang dewasa, penutupan dapat dilakukan secara konservatif jika belum terjadi hipertensi pulmonal.

Gejala Gagal Jantung

Overview: Bagian ini menjelaskan mengenai gejala gagal jantung pada pasien anak-anak.

  • Anak-anak biasanya mengalami intoleransi aktivitas seperti kesulitan bernapas saat nangis atau minum susu.
  • Gejala juga bisa muncul saat melakukan aktivitas seperti jalan jauh atau lari.

Gejala dan Tatalaksana Gagal Jantung pada Anak

Dalam bagian ini, dokter menjelaskan gejala-gejala gagal jantung pada anak dan tatalaksana yang dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi tersebut.

Gejala Gagal Jantung pada Anak

  • Gejala awal gagal jantung pada anak dapat ditemukan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik seperti adanya pembengkakan pada mata atau kaki, berkeringat, serta gangguan pertumbuhan.
  • Pemeriksaan jantung juga dapat memberikan informasi tentang keadaan gagal jantung, seperti terdapatnya kelep irama suara jantung atau kogesti vena di paru-paru.
  • Klinis batuk juga sering muncul bersama dengan kondisi gagal jantung.
  • Kelasifikasi gagal jantung dibagi menjadi 4 kelas berdasarkan tingkat keparahan gejalanya. Semakin tinggi kelasnya maka semakin berat kondisi gagal jantungnya dan aktivitas semakin terbatas.

Tatalaksana Gagal Jantung pada Anak

  • Eliminasi penyakit penyebab utama dari kondisi gagal jantung harus dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan tatalaksana lebih lanjut.
  • Terapi farmakologis dan non-farmakologis seperti positioning, oksigenasi, koreksi imbalan elektrolit asam basa, dan diet dapat membantu mengatasi kondisi gagal jantung pada anak.
  • Pemantauan berat badan dan asupan nutrisi yang memadai juga penting untuk menjaga kesehatan anak dengan gagal jantung.

Fase Dilatasi Pembuluh Darah Sistemik

Overview: Pada bagian ini, dokter menjelaskan tentang fase dilatasi pembuluh darah sistemik dan cara menurunkan afterload dengan pemberian vasodilator.

Fase Dilatasi Pembuluh Darah Sistemik

  • Setelah load jantung berkurang, fase dilatasi pembuluh darah sistemik membantu menurunkan resistensi vaskuler.
  • Vasodilator digunakan untuk menurunkan afterload agar jantung tidak terlalu berat saat memompa ke seluruh tubuh.

Penyakit Jantung Bawaan pada Anak-Anak

Overview: Dokter menjelaskan tentang penyakit jantung bawaan pada anak-anak dan cara membedakan jenis-jenisnya secara klinis.

Jenis Penyakit Jantung Bawaan pada Anak-Anak

  • Terdapat dua jenis penyakit jantung bawaan pada anak-anak: sianotik dan asianotik.
  • Pada penyakit sianotik, aliran darah paru-paru menurun karena adanya penyempitan pada katup-katup yang mengalirkan darah ke arteri pulmonal.
  • Pada beberapa kasus, seperti atresia trikuspid atau stenosis pulmonal, aliran darah paru-paru bisa sangat menurun sehingga menyebabkan sianosis.
  • Pada penyakit asianotik, aliran darah dari ventrikel terhambat sehingga menyebabkan peningkatan aliran darah pada paru-paru.
  • Kelainan jantung bawaan juga bisa dibedakan berdasarkan jenis murmur yang terdengar saat pemeriksaan fisik.

Jenis-jenis Penyakit Jantung Bawaan

Overview: Dokter menjelaskan tentang jenis-jenis penyakit jantung bawaan dan cara membedakannya berdasarkan sianotik atau asianotik.

Jenis-jenis Penyakit Jantung Bawaan

  • Penyakit jantung bawaan dapat dibedakan menjadi sianotik dan asianotik.
  • Pada penyakit sianotik, aliran darah paru-paru menurun karena adanya penyempitan pada katup-katup yang mengalirkan darah ke arteri pulmonal.
  • Pada beberapa kasus, seperti atresia trikuspid atau stenosis pulmonal, aliran darah paru-paru bisa sangat menurun sehingga menyebabkan sianosis.
  • Pada penyakit asianotik, aliran darah dari ventrikel terhambat sehingga menyebabkan peningkatan aliran darah pada paru-paru.

Transportation of Great Arteri

Overview: Dokter menjelaskan tentang transportation of great arteri dan kelainannya.

Transportation of Great Arteri

  • Pada transportation of great arteri, posisi aorta dan arteri pulmonalis terbalik sehingga mengganggu peredaran darah di dalam tubuh.
  • Hal ini dapat menyebabkan campuran antara aliran darah kanan dan kiri, yang dapat menyebabkan berbagai kelainan jantung bawaan.

Kelainan Jantung Bawaan Berdasarkan Jenis Murmur

Overview: Dokter menjelaskan tentang cara membedakan jenis kelainan jantung bawaan berdasarkan jenis murmur yang terdengar saat pemeriksaan fisik.

Kelainan Jantung Bawaan Berdasarkan Jenis Murmur

  • Kelainan jantung bawaan dapat dibedakan berdasarkan jenis murmur yang terdengar saat pemeriksaan fisik.
  • Pada VSD, umumnya terdapat mur-mur sistolik.
  • Pada ASD, biasanya terdapat mur-mur ejeksi sistolik atau tidak terdengar sama sekali.
  • Suara jantung duanya juga bisa terpisah pada beberapa kasus.

Penyakit Jantung

Overview: Pada bagian ini, pembicara membahas tentang beberapa jenis penyakit jantung yang termasuk dalam materi minggu kedua.

Jenis-jenis Penyakit Jantung

  • Picstolik, BSD, HSD, PDA dan Tetralogi Off adalah jenis-jenis penyakit jantung yang dibahas.
  • Semua penyakit yang masuk dalam materi minggu kedua merupakan gangguan pada fungsi dan pompa jantung.
  • Selain itu, ada kelainan jantung kongenital shock dan radang pada dinding jantung.

Materi Minggu Kedua

  • Pembicara akan mengirimkan materi-materinya terkait dengan materi minggu kedua.
  • Materi tersebut dapat dibaca ulang jika masih ada pertanyaan atau kesulitan memahami skenario.

Pertanyaan

  • Tidak ada pertanyaan dari peserta saat sesi berlangsung. Namun, peserta diizinkan untuk bertanya langsung secara personal atau melalui momen ketemu selanjutnya.
Video description

for more information please visit our website on https://sites.google.com/unisma.ac.id/arthrology-effervescent/home