Sejarah Petrus, Para Penembak Misterius di Era Orde Baru
Kasus Klitih dan Kebijakan Petrus di Indonesia
Latar Belakang Kasus Klitih
- Kasus klitih di Jogja menjadi perhatian publik, menimbulkan banyak korban dan efek negatif seperti ketakutan masyarakat terhadap keamanan.
- Diskusi mengenai kejahatan ini mengingatkan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, khususnya kebijakan Petrus yang dianggap berhasil dalam memberantas kejahatan.
Kebijakan Orde Baru dan Operasi Petrus
- Orde Baru dikenal sebagai masa yang mencekam dengan dua peristiwa besar: pembersihan unsur komunis dan kebijakan penembakan misterius (Petrus).
- Operasi Petrus adalah upaya pemberantasan kriminalitas yang menyasar individu-individu dengan penampilan fisik tertentu, seperti berambut gondrong atau bertato.
Mindset Pemerintahan Orde Baru
- Untuk memahami kebijakan Petrus, penting untuk melihat mindset pemerintah Orde Baru yang berbeda dari sebelumnya; mereka fokus pada stabilitas dan kesejahteraan.
- Meskipun menciptakan stabilitas ekonomi, banyak orang terpaksa mencari jalan pintas untuk kaya, termasuk menjadi preman.
Peningkatan Kriminalitas dan Respon Pemerintah
- Pada tahun 1980-an, angka kriminalitas meningkat drastis di Jakarta dan pulau Jawa, memicu tindakan ekstrem dari pemerintah.
- Kebijakan ekstrim diterapkan untuk menumpas kriminal tanpa proses hukum karena proses hukum dianggap lambat dan tidak efisien.
Pelaksanaan Operasi Petrus
- Operasi ini dikenal dengan nama "penembak misterius" setelah banyak pelaku kriminal ditemukan tewas tanpa diketahui pelakunya.
- Dalam rapat Januari 1993, keputusan dibuat untuk melanjutkan operasi celurit oleh kepolisian dan militer di berbagai provinsi.
- Awalnya hanya mendata mantan pelaku kriminal, namun berkembang menjadi eksekusi lapangan terhadap siapa saja yang dianggap sampah masyarakat.
Kasus Pembunuhan Preman dan Hubungan dengan Penguasa
Temuan Jasad dan Media
- Banyak jasad ditemukan di sekitar toko, sebagian dimasukkan ke dalam karung. Ciri-ciri jasad tersebut adalah bertato dan memiliki lubang peluru di kepala, leher, atau dada.
- Media ramai memberitakan kasus ini, menyoroti hubungan antara preman dan penguasa yang sering kali tidak bertentangan.
Hubungan Preman dan Penguasa
- Ada anggapan bahwa penguasa adalah preman yang legal; mereka sering menggunakan jasa preman dalam politik.
- Contoh nyata adalah Bati Mulyono, ketua Yayasan Fajar menyingsing yang dibekingi oleh pejabat tinggi seperti Gubernur Jawa Tengah.
Peran Preman dalam Politik
- Pada kampanye Pemilu 1982, kelompok preman disewa untuk memprovokasi massa dari partai lain.
- Kericuhan terjadi akibat provokasi ini, dikenal sebagai peristiwa Lapangan Banteng. Beberapa ditangkap sebagai provokator tetapi para preman sewaan tidak tersentuh hukum.
Nasib Bati Mulyono
- Meskipun dekat dengan penguasa, Bati Mulyono disergap pada Juli 1983 oleh dua motor yang menembaknya. Ia selamat tetapi hidup secara nomaden karena merasa terancam.
- Setelah penembakan itu, ia bersembunyi di Gunung Lawu hingga tahun 1985 saat situasi mulai mereda.
Operasi Pemberantasan Kejahatan (Petrus)
- Operasi Petrus dimulai pada tahun 1983 berhasil menurunkan tingkat kejahatan di Yogyakarta dan Semarang secara drastis.
- Ultimatum dikeluarkan kepada masyarakat untuk menyerahkan diri jika merasa termasuk dalam daftar target kejahatan. Ini menciptakan ketakutan di kalangan preman.
Reaksi Terhadap Operasi Petrus
- Sebanyak 441 orang menyerahkan diri setelah ultimatum dikeluarkan. Berita mengenai operasi ini mendapatkan reaksi beragam dari tokoh masyarakat.
- Tokoh pemuda Adam Malik mengecam tindakan eksekusi tanpa proses hukum sebagai tindakan melawan hukum yang dapat membawa kehancuran bagi negara.
Dampak Operasi Petrus
- Presiden Soeharto mengklaim bahwa operasi ini mencegah kejahatan meskipun banyak korban jatuh akibat perang antar geng.
- Pada tahun 1983 tercatat sebanyak 532 orang tewas akibat operasi ini; bahkan orang biasa bisa menjadi korban hanya karena nama mereka mirip dengan target.
Peristiwa Operasi Petrus dan Dampaknya
Latar Belakang Operasi Petrus
- Banyaknya korban dalam peristiwa Operasi Petrus menarik perhatian dunia internasional, dengan organisasi seperti Amnesty International mengirimkan surat kepada pemerintah Indonesia untuk menyoroti kebijakan tersebut. Namun, surat ini tidak mendapatkan tanggapan.
Pro dan Kontra di Dalam Negeri
- Yoga Soegama berpendapat bahwa di balik pembunuhan preman terdapat kepentingan yang lebih besar daripada sekadar kematian mereka. Tekanan dari dunia internasional terus berdatangan, mendorong pemerintah Indonesia untuk menghentikan operasi tersebut.
Penghentian Operasi
- Akibat tekanan dari masyarakat dan dunia internasional, Operasi Petrus dihentikan sepenuhnya pada tahun 1985. Operasi ini dimulai atas permintaan Soeharto sejak 1982 dan telah berlangsung dari 1983 hingga 1985, menyebabkan lebih dari 1000 korban jiwa.
Data Korban
- Menurut data yang dirilis oleh Komisi untuk Orang Hilang dan Tindakan Kekerasan, puncak jumlah korban terjadi pada tahun 1983. Hal ini menunjukkan dampak signifikan dari operasi terhadap masyarakat.
Pertanyaan untuk Refleksi
- Penonton diajak untuk memberikan pendapat mengenai apakah mereka setuju jika operasi serupa diadakan kembali di Indonesia sebagai respons terhadap masalah kejahatan seperti pencurian atau perampokan yang marak terjadi.