GJ 91 | MENGAPA PA 212, MUI, DAN FPI TAKUT COLDPLAY KKONSER? CULTURE OF FEAR
Mengapa Ada Orang yang Takut dengan Konser Cosplay di Indonesia?
Overview: Pada video ini, Guru Gembul membahas tentang fenomena sosial yang sedang terjadi di Indonesia yaitu culture of fear atau rasa takut berlebihan. Ia menjelaskan ciri-ciri dari masyarakat yang sangat takut terhadap sesuatu dan mengapa mereka suka melegitimasi tindakannya.
Ciri-ciri Masyarakat yang Sangat Takut
- Culture of fear adalah rasa takut D'Masiv dari sekelompok orang karena didorong oleh kepentingan-kepentingan politik tertentu dan menggunakan bias-bias emosi tertentu.
- Masyarakat yang sangat takut mudah marah pemarah sekali karena merasa dirinya terancam dan sensitif terhadap sesuatu yang dianggap sebagai sebuah ancaman.
- Mereka tidak bekerja di bidang tertentu tetapi sibuk memantau pekerjaan dan karya orang lain. Ketika ada karya-karya pihak lain, mereka langsung bereaksi atasnya.
- Mereka suka melegitimasi tindakannya dengan alasan Pancasila, agama, lgbt, atheisme dan sebagainya untuk membenarkan tindakan mereka.
Contoh Kasus
- Preman pasar sangat ketakutan karena mereka dibuang oleh masyarakat, diincar oleh preman lain sebagai pesaingnya, takut dilaporkan sama polisi, berurusan dengan polisi, masuk penjara dan takut pada masyarakat.
- Ketika cosplay datang, mereka langsung bereaksi terhadapnya meskipun tidak sedang berkarya apa-apa. Begitu juga ketika ada buku tertentu atau ilmuan yang mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan keyakinan mereka.
Karakteristik Masyarakat Ketakutan
Overview: Pada bagian ini, Guru Gembul menjelaskan karakteristik dari masyarakat yang sangat takut.
Ciri-ciri Masyarakat yang Ketakutan
- Mereka mudah marah pemarah sekali karena merasa dirinya terancam dan sensitif terhadap sesuatu yang dianggap sebagai sebuah ancaman.
- Mereka suka melegitimasi tindakannya dengan alasan Pancasila, agama, lgbt, atheisme dan sebagainya untuk membenarkan tindakan mereka.
Contoh Kasus
- Tidak ada contoh kasus baru pada bagian ini.
Karakteristik Masyarakat Ketakutan
Overview: Pada bagian ini, dijelaskan karakteristik masyarakat yang merasa takut dan bagaimana mereka menggunakan rasa takut untuk mengumpulkan massa.
Menggunakan Rasa Takut untuk Melegitimasi Kelompoknya
- Masyarakat yang merasa takut menggunakan rasa takut tersebut untuk melegitimasi kelompoknya.
- Mereka tidak perlu memahami isu yang menjadi sumber ketakutan mereka, tetapi cukup menggunakan isu tersebut sebagai alat legitimasi.
- Semakin banyak orang dalam kelompoknya, semakin berkurang rasa takut mereka.
Mengklaim Representasi dari Sebuah Kelompok
- Mereka sering mengklaim bahwa dirinya adalah representasi dari sebuah kelompok tertentu, seperti umat Islam.
- Padahal, umat Islam sendiri memiliki pandangan yang beragam terhadap suatu isu.
- Hal ini dilakukan agar dapat melegitimasi keberadaan kelompok mereka dan menarik lebih banyak orang bergabung dengan kelompok tersebut.
Mengumpulkan Massa
- Mereka cenderung mengumpulkan massa karena semakin banyak orang dalam kelompoknya maka semakin berkurang rasa takut mereka.
- Tidak suka pada aksi individu dan lebih suka pada pengumpulan massa dalam bentuk demonstrasi atau aksi besar lainnya.
Menyebar Ketakutan
- Mereka menyebar ketakutan untuk mengekspresikan rasa takutnya dan membawa orang lain untuk ikut takut bersama mereka.
- Hal ini dilakukan agar kelompok mereka semakin besar dan mendapatkan simpati serta empati dari orang lain.
Kepentingan Politik
- Masyarakat ketakutan adalah masyarakat yang didorong oleh kepentingan politik tertentu dengan emosi tertentu.
- Ada elit politik yang menggerakkan mereka, seperti Saudi Arabia yang mensponsori Habib yang takut pada Syiah atau Amerika Serikat yang menyebar propaganda tentang teroris.
Propaganda Pemerintah Terhadap Rokok dan Masyarakat
Overview: Dalam video ini, Guru Gembul membahas tentang propaganda pemerintah terhadap rokok dan masyarakat.
Inkonsistensi Pemerintah dalam Menciptakan Rasa Takut pada Masyarakat
- Pemerintah menciptakan rasa takut pada masalah tertentu untuk memuluskan program-programnya.
- Contoh inkonsistensi pemerintah adalah mengambil pajak yang besar dari upaya pembunuhan terhadap masyarakat melalui rokok.
- Poster "Merokok Membunuhmu" sebenarnya tidak logis dan cacat moral karena tidak didasarkan pada riset atau studi ilmiah.
- Propaganda pemerintah terhadap rokok bertujuan menciptakan rasa takut pada masyarakat agar mereka bisa memuluskan program-programnya.
Media sebagai Alat Propaganda Pemerintah
- Media sering kali menjadi alat propaganda pemerintah dengan hanya memberitakan momen-momen tertentu saja, seperti kasus bakso formalin atau penculikan anak.
- Beberapa kelompok tertentu sengaja menciptakan rasa takut pada masyarakat demi kepentingan politik atau agama.
Menghindari Terjebak dalam Ketakutan yang Diciptakan oleh Propaganda
- Masyarakat harus sadar bahwa mereka sedang dikontrol oleh propaganda dan harus bergerak secara independen.
- Masyarakat harus waspada terhadap propaganda dan mengenali kepentingan di baliknya.
Kesimpulan
- Propaganda pemerintah dan kelompok tertentu seringkali menciptakan rasa takut pada masyarakat untuk memuluskan program-program mereka. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk sadar akan hal ini dan bergerak secara independen.